BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Pada era globalisasi masa kini, umat
beragama dihadapkan kepada serangkaian tantangan baru yang tidak terlalu
berbeda dengan apa yang pernah dialami sebelumnya. Pluralisme agama konflik
intern atau antar agama Masa kini tidak sedikit pertanyaan kritis yang harus
ditanggapi oleh umat beragama yang dapat diklasifikasikan rancau dan
merisaukan. Sebagai konsekuensi tampilnya sekian banyak agama, disini akan
dibahas perbandingan dalam studi Islam, yaitu tentang agama islam dan
perbandingan agama lain.
1.2. Rumusan Masalah
a. Islam
dan Perbandingan Agama Lain.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Studi Perbandingan Agama ( Comparative
Religions )
Para
sarjana barat ( orientalism sholar )
telah menyadari akan kesalahan selama ini yang dilakukan oleh para
pendahulunya, yakni meliat Islam dengan kaca mata yang stereotip dan skeptis.
Para pendahulu mereka mengkaji Islam dangan perspektif barat yang bias dalam melihat objek.
Kecenderungan kaum orientalis colonial lebih
suka menjustfikasi objek ( masyarakat muslim ) dengan dasar pemahaman mereka
terhadap teks agama yang dalam tataran apikasinya bias dan kurang menyentuh
akar pemahaman masyarakat Islam itu sendiri. Hal ini dapat memunculkan bahaya
berupa benturan budaya ( clash of
civilization ), seperti yang diprediksikan oleh Samuel Huntington dalam
uraian analisisnya.
Tepat
pada lima pulu tahun yang lampau ( 1905 )-Joachim Wach bercerita- ada seorang
guru besar Ilmu Pengetahuan Agama di Universitas Chicago, yakni Louis Henry
Jordan yang berusaha meninjau kembali asal-usul dan perkembangan disiplin Ilmu
Perbandingan Agama dalam karyanya yang berjudul Comparative Religion: Its Genesis and Growth. Uraian dalam buku ini
juga meneliti bidang yang sama, tetapi dengan maksud dan tujuan yang sedikit
berbeda. Penelitiannya bertolak dari sebuah uraian singat mengenai perkembangan
disiplin Ilmu Perbandingan Agama tersebut ; kemudian diikuti dengan pembahasan
mengenai metodologi yang selanjutnya membawa pada pnyajian teori penghayatan
pengalaman beragama dan bentuk peng-ungkapannya.[1]
Lanjut
Wach, tiga puluh tahun yang lalu ( 1924 ), Johan juga pernah memberikan uraian
ringkas sehubugan dengan program penelitian ilmu agama (Religionswissenschaft) yang dilakukannya. Kemudian, masalah
pemahaman beragama yang berbeda dari agamanya sendiri telah membawanya pada
suatu penyelidikan teori interpretasi (
hermeneutic) abad kesembilan belas (1926-33). Dari penelitian tersebut, ia
menyimpulkan suatu masalah penting, yaitu bagaimana wujud keagamaan yang bhineka itu dapat dipahami? Dalam mengerjakan sejarah agama, Jordan
merasakan kebutuhan akan adanya teori pengalaman agama dan bentuk-bentuk
pengungkapannya dalam pemikiran, peribadatan, dan kelompok social.[2]
Untuk
maksud di atas, Jordan berusaha membahas dengan jelas pengungkapan pengamalan
keagamaan yang bersifat sosiologis seperti yang termuat dalam Sociology of Religion (1944). Dalam Type of Religion Experience (1951),
terdapat sebuah bab tentang hal-hal yang universal agama (Universals in Religion) yang menjelaskan dalam garis besar
teori pengalaman keagamaan dan
pengungkapannya dengan agak teoriis, praktis, dan sosiologis. Setelah tiga
puluh tahun menggeluti masalah tersebut, Joachim Wach akhirnya dapat menyimpulkan
betapa perlunya sebuah kerangka kerja yang adaptif. Kesempatan untuk merumuskan
pandangan-pandangan metodologis dan teoritis sekali lagi diperolehnya bersamaan
dengan adanya undangan untuk menyampaikan kuliah di Barrows, india (1952), dan
juga undangan dari Komite Sejarah Agama Lembaga Masyarakat Ilmiah Amerika untuk
memberikaan kuliah selama tahun akademik 1954-1955. Kuliah ini diberikaan pada
pelbagai lembaga akademis di Amerika Serikat.[3]
Terima
“sejarah-sejarah agama” (history of
religions) juga digunakan dalam lingkup lebih luas dari perbandingan agama
(comparative religions), termasuk juga fenomenologi agama (phenomenology of
religion). Sampai sekarang, kajian “komparatif”fakta agama, berbeda dari kajian
“sejarah” atas pengruh dan perkembangan, yang tampaknya akan menghasilkan buah
karya terbaik bagi Kajian Islam dalam bidang bahasa –bahasa Semit. Menurut
Jacques Waardenburg, para sarjana Bible seperti Julius Wellhausen (1844-1918)
dan W. Robertson Smith (1846-1894), terkenal akan karyanya dalam kajian-kajian
keritis kentang sejarah Perjanjian Lama. Mereka tidak saja sadar akan pertalian
antara orang Yahudi dan Arab., tetapi mereka juga melihat berbagai praktik
badui sekarang dengan harapan bahwa beberapa bukti dapat ditemukan untuk
mengatasi problem-problem tertentu tentang agama Ismail kuno.[4]
A.J.
Wensinck (1882-1939) membuat persaman dan sruktur elemen-elemen tertentu yang
dimiliki oleh agama-agama Semit-Barat dan Islam, perkembangan yang sebanding
dalam agama Isra’il dan awal agama Islam, berbagai hubungan sejarah dan
kesusastraan antara awal Islam dan Umwelt Syria, serta sistem asketis dimana
Kristen Timur dan Muslim awal secara spiritual berkembang dari abad keempat
hingga kedelapan sebelum Masehi.[5]
Perbandingan
antar fakta agama-agama dapat dibuat, tentu saja dalam acara yang berbeda dan
juga dengan tujuan yang bebeda pula. Jika signifikasi fakta tertentu dalam satu
agama tidak dikenal, tetapifakta yang sejalan dalam agama yang lain- termasuk
areal kultural yang sama-diadakan, kemudian sebuah komparasi antara fakta-fakta
tersebut menjelaskan signifikansi yang kurang diketahui, setidak-tidaknya
perpikiran, pada sekala yang lebih luas, orang dapat membuat berbagai komparasi
struktural antara agama, misalnya, untuk memahami karakter yang berbeda dari
setiap agama, atau untuk mendemonstrasikan keberadaan betuk pokok yang berdasar
dari agama.
Berbagai
usaha juga telah dibuat untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk makna yang lebih
luas meliputi fenomena individual yang diklasifkasikan oleh makna-makna
komparasi dibawah bentuk-bentuk yang lebih luas. Berbagai komparasi jenis yang
pertama lebih tepat dan dapat membuktikan pemeriksaan (croos check) dan komparasi-komparasi yang lain yang membawa
pemahaman yang lain baik secara detail teks-teks agama Islam, ritual, dan
bentuk-bentuk kesalahan yang mungkin masih kabur. Berbagai komparasi antara
Islam dan Kristen dapat mengklasifikasi berbagai perbedaan yang beragaam dalam
cara yang lebih baik dari pada meneruskan konfrontasi polemik doktrin-doktrin
teknologi.[6]
Sebagai
agama profetik, Islam dapat dianggap sebagai satu variasi dalam bentuk yang
lebih luas dari agama-agama profetik yang mempunyai banyak ciri dengan
agama-agama profetik lain yang mengembangkan kitab suci dan hukum.
Kaitannya
dengan kajian perbandingan agama-agama termasuk didalam agama islam- Jacques
Waardenburg[7]
menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan terma-terma yang terkait. Di
antaranya adalah :
·
Kajian-kajian
perbandingan figur- figur nabi (prophetic
figure) termasuk Nabi Muhamad, dan munculnya agama-agama yang bertipe
profetik termasuk Islam, seharusnya mencatat kondisi-kondisi dibawah keberadaan
nabi-nabi Timur Tengah dan signifikansi mereka bagi masyarakatnya.
·
Perkembangan
dari kata “profetik” kedalam “kitab suci” (cononized
scripture), dari tradisi lisan ke tulisan, dan proses yang menyertainya
yaitu sakralisasi dalam Islam seharusnya dibandingkan dengan kemajuan-kemajuan
serupa dari ajaran-ajaran profetik, untuk kemajuan profetik, untuk sebuah agama
yang mengklaim universalitas dan yang mengonsolidasi agamanya sendiri dengan kitab
suci dan hukum sebagai bentuk-bentuk institusi.
·
Perhatian
seharusnya diberikan terhadap kemunculan dan kemajuan lebih jauh dari
pergerakan agama yang bepegang teguh
pada norma-norma moral serta agama, mistik, gnostik, atau bentuk
filsafat dalam Islam yang sejalan dangan pergerakan serupa dalam
tradisi-tradisi agama lain. Kajian-kajian tertentu mungkin melibatkan konteks
sosial dan politik. Berbagai pergerakan tersebut muncul dan cara-cara dari
berbagai kemajuan mempertimbangkan tradisi-tradisi yang diwariskan dan
melegitimasi pergerakan tersebut. Misalnya, tren-tren dalam agama monotheis
yang melintasi tradisi yang ada untuk memelihara berbagai pembaruan dengan
wahyu asli atau Firman Tuhan yang disusun dalam kitab suci, seperti Karaites,
Kharijites, dan Lutheran pertama kali, Yahudi, Islam, dan Kristen secara
respektif.
·
Elemen-elemen
spesifik dari struktur agama islam, sebagaimana fungsinya dalam masyarakat
Muslim tentu, dapat diperbandingkan dengan elemen-elemen yang membuat sebuah
fungsi sejalan dalam struktur agama lain dari pada elemen yang ada dalam islam,
serta dalam macam-macam bentuk masyarakat. Sunnah
dalam Islam, sebagai contoh, mugkin dapat dibandingkan dengan jenis-jenis
lain tradisi normatif dalam agama-agama lain.
·
Ada
kebutuhan terhadap berbagai kajian komparasi tentang penanganan problem-problem
tertentu dalam etnis, yurisprudensi, teologi Islam, Yahudi, dan Kristen dalam
perkembangan sejarahnya. Hal ini mungkin membutuhkan perhatian yang lebih baik
pada hal-hal tertentu, seperti cara-cara khusus dengan persoalan yang sudah di
formulasikan dalam setiap agama atau belum terlihat secara keseluruhan,
solusinya telah dipertimbangkan,dan luasnya solusi tertentu mempunyai tendensi
atau arah universal.
·
Dalam
catatan sejarah, para pemikir dan ragam kelompok berbeda telah memberi berbagai
macam interpretasi Islam, sebagaimana perkembangan sejarah masyarakat muslim
yang telah membawa berbagai perubahan interprestasi dan praktik tertentu
dihubungkan satu dengan yang lain. Hasil proses interprestasi diri tentang
Islam sampai sekarang menjadikan islam sendiri untuk diperbandingkan dengan
proses-proses interprestasi diri mengenai agama-agama dan ideologi lain,
terutama ketika orang yang memiliki agama berbeda dan pengalaman berbagai
ideologi yang mirip dalam perkembangan dan kejadian serta ketika mereka
merespons hal-hal tersebut dalam terma agama atau ideologi khusus mereka.
Ketertarikan khusus di sini merupakan proses penemuaan kembali dan penolakan,
serta sakralisasi dan desakralasi berbagai elemen khusus dari berbagai tradisi
yang terkait.
·
Untuk
lebih spesifik, timbulnya pergerakan atau reaksi pada tradisi dan praktik agama
Islam abad kesembilan belas dan kedua puluh dapat dibandingkan dengan berbagai
pergerakan yang mirip dalam berbagai tradisi agama lain pada periode yang sama.
Berbagai perbandingan tentu membawa pada pemahaman yang lebih baik bagi
berbagai jenis respons positif dan negative yang berbeda dalam proses
“modernisasi” sebagaimana pergerakan tersebut timbul dalam berbagai komunikasi
agama, melintasi batas-batas agama. Pergerakan-pergerakan tersebut mungkin juga
memperlihatkan berbagai jenis proses sekulerisasi yang berbeda,[8]
aau kejadian atas perkembangan baru tradisi-tradisi agama yang lebih tua, atau
bahkan timbulnya agama-agama “baru” di luar agama-agama. Jika seseorang dapat
melakukan berbagai kajian komparatif timbul dan runtuhnya elemen-elemen
tertentu dalam tradisi-tradisi agama yang berbeda melebihi periode tertentu,
masuk pada catatan konteks sejarah dan sosial, mungkin ia dapat menemukan,
mengapan data tertentu dalam Islam dan tradisi-tradisi agama lain mengalami
penguatan atau kelemahan makna agama-agama mereka. Berbagai tendensi
sakralisasi dengan berbagai tradisi agama dan budaya yang berbeda pada saat
sekarang, misalnya dengan mepertimbangkan state
dan kepentingan Negara, perhatikan yang sepenuhnya pantas dan seharusnya
dikomparasikan satu dengan yang lain.
Perbandingan
agama (comparative religions) sebagai
sebuah cabang ilmu masih berusia muda. Pertama kali diperhatikan oleh Max Muller
(1823-1900) menjelang penghujung abad ke-19. Sebelumnya, memang sudah ada dan
sudah berlangsung penelitian yang dilakukan oleh para sarjana Orientalis
teradap satu per satu agama, tetapi masih bersifat terpisah-piasah, dan umumnya
bersifat subjektif, karena setiap agama agama itu disoroti dari aspek keyakinan
keagamaan yang dianut pleh pihak sarjana-sarjana Orientalis itu sendiri. Cara
ini lebih menonjolkan segi-segi negatif belaka, bahkan sengaja dibuat negatif
berdasarkan penafsiran-penafsiran subjektif dari pihak sarjana-sarjana
Orientalis itu sendiri. Cara ini lebih menonjolkan segi-segi negatif
berdasarkan penafsiran-penafsiran subjektif dari pahak sarjana-sarjana
Orientalis.
Namun
demikian, Max Muller mulai mengubah landasan penelitian yang sudah banyak
berkembang tersebut. Ia berbicara tentang suatu agama itu menurut apa adanya
sepanjang kenyataan yang ada didalam kitab suci tiap-tiap agama. Oleh sebab
itu, Max Muller dipandang sebagai pembangunan sebuah cabang ilmu baru yang
disebut dengan perbandingan agama (comparative
religions).[9]
Langkah penelitian mengkuti kinerja-kerja Muller, bagi generasi berikutnya,
adalah apa yang dilakukan oleh Sigmund Freud (1856-1939), dan Carl Jung
(1875-1961).
Pandangan
Freud didasarkan pada asumsi bahwa setiap tindak-laku manusiawi itu atas
libido, yakni hasrat berkelamin, karena ia berpendapat bahwa “religion is the expression of neuroses,
based on the guilt intherent in repression of infantile sexual fantasies”, yakni
“agama itu adalah penjelmaan gangguan syaraf berdasarkan dosa diri yang
membenam disebabkan represi terhadap khayal seksual dimasa kanak-kanak.”[10]
Freud mendasarkan diri pada pendapat agama bahwa kehidupan agama yang paling
utama adalah menjadi biarawan dan biarawati tanpa kawin.
Sementara
itu, Carl Jung berpendapat bahwa sebab bagi setiap tindak-laku manusiawi itu
terlatak pada kodrat-kodrat kejiwaan dibawah sadar. Lebih lanjut, ia mengatakan
: “religion represent the method mankind
has developed to live with those fears and frunstations which have been built
into our subconscious”, yakni, “agama itu penjelmaan tata cara yang
dikembangkan manusia untuk tata hidup disebabkan ketakutan-ketakutan dan
kekecewaan-kekecewaan yang membenam ke dalam bawah sadar”.[11]
2.2.
Islam dan Perbandingan Agama Lain
Perkembangan
pendidikan dan kemajuan ilmu pengetahuan, kesemuanya itu merubah pandangan dan
pikiran orang Islam diseluruh dunia dan sekaligus merupakan rennaisance orang
Islam dalam lapangan ilmu pengetahuan, penertiban, kehidupan agama dan
sebagainya. Dengan perkembangan tersebut para sarjana Islam memperbaharui
polemik mereka terutama terhadap aktivitas missi Kristen. Pada umumnya
polemik-polemik yang diadakan oleh kaum Muslim merupakan reaksi terhadap
literatur-literatur yang diterbitkan oleh orang-orang Kristen.[12]
Sejarah
hubungan antara Islam dan kristen telah melalui masa yang panjang dan diliputi
oleh suasana setempat. Isi polemik antara Islam dan kristen pada umumnya
meliputi permasalahan-permasalahan sebagai berikut:
a. Kristologi (Islam tidak menyinggung
pribadi Yesus sebagai kristus)
b. Kenabian Muhammad SAW terutama
mu’jizatnya
c. Kedudukan Bybel sebagai wahyu
d. Ajaran Paulus yang dogmatis
e. Masalah Moral
Dalam
kenyataannya materi politik antara abad pertengahan dan abad dua puluh meliputi
hal yang sama, namun sudah tentu terdapat pemikiran baru yang terdapat dalam
penerbitan mutakhir. Karena adanya pemikiran baru, maka sekalipun pokok
pembicaraan sama. Namun ada perobahan dalam interpretasi. Dalam beberapa hal
terdapat perhatian umat Islam terhadap penemuan baru. Adanya penemuan baru
tersebut dipergunakan oleh umat Islam untuk membahas kitab suci Kristen.
Dalam
hal toleransi, Nabi Muhammad pernah memberi suri tauladan yang sangat inspiring
dihadapan para pengikutnya. Sejarah mencatat bahwa nabi pernah dikucilkan dan
bahkan diusir dari tanah Makkah. Beliau terpaksa hijrah ke Madinah untuk
beberapa lama dan kemudian kembali ke Makkah. Peristiwa ini disebut dengan
fatkhul Makkah. Dalam peristiwa yang penuh kemenangan ini, Nabi tidak mengambil
langkah balas dendam kepada orang-orang yang telah mengusirnya.[13]
Dengan
titik tolak pandangan tersebut umat Islam pada tempatnya bersikap menghargai
agama orang lain. Menghargai agama orang lain tidak identik dengan pengakuan
akan pengakuan kebaikan dan kebenaran agama tersebut.
2.3. Perbedaan
islam degan agama-agama lain
Melalui lantaran Rosululloh SAW kita dikabarkan tentang
konsep ketuhanan yang Hak. Konsep ketuhanan yang meniadakan sekutu bagi tuhan,
atau dalam kata lain konsep tuhan Esa, tanpa menyandarkan Tuhan dengan benda
atau suatu apapun.
Berbeda dengan sistem ketuhanan Agama yang lain. Sebagaimana yang bisa kita lihat pada Agama Hindu dan Budha yang menyandarkan tuhan pada Arca dan Patung-patung.perbedaan juga terdapat pada konsep ketuhanan mereka, sebab dalam Agama Hindu ternyata Dikenal dengan istilah Trinitas, yang tertdiri dari Brahma sebagai Dewa pembantu, Wisnu sebagai Dewa pemelihara dan Siwa sebagai dewa perusak.
Berbeda dengan sistem ketuhanan Agama yang lain. Sebagaimana yang bisa kita lihat pada Agama Hindu dan Budha yang menyandarkan tuhan pada Arca dan Patung-patung.perbedaan juga terdapat pada konsep ketuhanan mereka, sebab dalam Agama Hindu ternyata Dikenal dengan istilah Trinitas, yang tertdiri dari Brahma sebagai Dewa pembantu, Wisnu sebagai Dewa pemelihara dan Siwa sebagai dewa perusak.
Yang menjadi pertanyaan adalah, ketika peraturan mereka akan
memutuskan satu masalah. Berarti mereka harus mengadakan rapat terlebih dahulu.
Kalau dalam sidang ada Tuhan yang tidak setuju, bagaimana?.melihat tugas
tuhan-tuhan tersebut,apa mungkin mereka tidak berbeda pendapat. Atau dengan
kata lain apakah para Tuhan tidak bertengkar? Diantara Tuhan itu,yang mana yang
paling awal? dan saya rasa mungkin masih banyak pertanyaan yang tidak ada
habisnya tentang konsep ketuhanan mereka, yang seperti sangat dipaksakan.
Atau bisa dilihat pada Agama kristen, Dalam Aqidah kristen
sistem ketuhanan dikenal dengan istilah Trinitas, perbedaan yang mendasar
adalah kristen mengajarkan bahwa disurga tuhan Bapak, mengakui adanya Tuhan
anak dan Ruh kudus yang diberikan Malaikat Jibril kepada Maryam. Sistem ini
dinamakan Trinitas yang mengakui bahwa Tuhan ada tiga. Tuhan Bapak,Tuhan Anak,
Tuhan Ibu (Ruhul kudus).
Dengan adanya Tuhan Anak, mereka beranggapan bahwa dosa-dosa
yang dilakukan oleh Adam dapat ditebus dengan penyalipan Nabi Isa. Hal itu
berangkat dari kasus yang dilakukan Nabi Adam ketika berada disurga, yang
memakan buah khuldi (menurut satu pendapat) yang dilarang Tuhan, karena itu
penyaliban Yesus merupakan tanda penebusan dosa manusia. Dalam hal ini, Roh
kudus dianggap memiliki andil yang sangat besar dalam usaha memperbaharui
penebusan dosa. Dengan demikian kita semua tidak berdosa atau sudah terbebas
dari dosa. Sehingga dalam ajaran kristen jarang sekali apa yang dinamakan
neraka. Karena manusia dianggap bebas dari neraka. Yang diartikan sebagai
tempat orang yang melakukan dosa.
Sementara dalam ajaran Islam konsep ini, jelas-jelas
ditolak. Seorang Anak melakukan dosa, tidak akan turun kepada orang tuanya atau
sebaliknya, karena tidak ada yang sanggup menanggung dosa seseorang walaupun
terhadap keluarganya sendiri kecuali diri sendiri.
2.4.
Perbadinga Agama Islam dengan Kristen
Dilihat dari keadaan sistem ketuhanan yang ada dalam ajaran
Kristen, banyak orang Eropa dan Amerika yang sudah meninggalkan ajaran
agamanya. Banyak yang beranggapan bahwa Kristen bisa mencapai kemajuan karena
mereka meninggalkan ajaran itu, terbukti banyak negara Barat terutama Amerika,
sangat mengkampanyekan secara total antara urusan agama dan negara. Karena
memang dalam ajaran Kristen tidak ada pengaturan tentang kehidupan dunia itu
menjadi bukti nyata bahwa betapa tidak relevan ajaran itu untuk kehidupan saat
ini, karena memang ajaran Kristen hanya di peruntukan untuk sekelompok umat dan
hanya pada waktu itu.
Berbeda dengan Islam yang menyajikan pengaturan dan aturan
tentang bagaimana kehidupan yang benar itu, Islam menyajikan aturan dunia yang
sangat sempurna dan terbagi menjadi tiga pembagian hukum, Fiqh Siyasah, Fiqh
Ibadah, Fiqh Muamalah suatu konsep ajaran yang integral dan tidak dapat di
temukan dalam ajaran agama lain.
Sebaliknya umat Islam bisa mundur karena mereka meninggalkan ajaran agamanya, sekalipun banyak orang kristen yang meninggalkan agamanya, namun mereka tetap mengakui akan kebenaran agama itu. Sebagian lambang dari ajaran agama Kristen yang kita saksikan adalah salib, asas-asas salibisme yang ada pada diri merek sangat kelihatan, seperti apa yang terjadi ketika perang salib.
Sebaliknya umat Islam bisa mundur karena mereka meninggalkan ajaran agamanya, sekalipun banyak orang kristen yang meninggalkan agamanya, namun mereka tetap mengakui akan kebenaran agama itu. Sebagian lambang dari ajaran agama Kristen yang kita saksikan adalah salib, asas-asas salibisme yang ada pada diri merek sangat kelihatan, seperti apa yang terjadi ketika perang salib.
Sesungguhnya ajaran-ajaran Kristen tersebut sering
menimbulkan perbedaan di kalangan mereka sendiri dan ini menyebabkan berbagai
aliran di tubuh Kristen itu sendiri, dan bagi mereka yang berbeda aliran tidak
diperkenankan beribadah di tempat yang sama. Sebagai inti uraian dalam
pembatasan ini adalah ada suatu keyakinan Nasrani yang tidak sama dengan Islam
yaitu derajat maksiat seseorang. Jika salah satu di antara mereka berbuat
maksiat maka yang lain akan dianggap maksiat semua, atau ada pemimpin yang
berbuat baik maka yang lain dianggap baik, dan ini sungguh merupakan ajaran
yang tidak masuk akal.[14]
BAB III
KESIMPULAN
DAN PENUTUP
3.1.Kesimpuan
Dari
pemaparan diatas pemakalah menyimpulkan bahwa perbandingan dalam studi Islam
adalah suatu cara untuk mengembangkan dan memeperluas cakrawala pemahaman
terhadap agama. Kemudian berusaha untuk memahami kehidupan batin, orang, maupun
masyarakat, yang berkaitan dengan perilaku beragama seseorang dalam hubungan
dengan Tuhan, atau dengan apapun yang dianggap sakral.
3.2.
Penutup
Demikianlah
makalah ini saya susun, pemakalah menyadari tentunya makalah ini masih banyak
keasalahan dan kekurangan. Untuk itu diharapkan kritik dan saran yang
membangun. Selanjutnya diharapkan makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
Joachim
Wach, ILmu Pengetahuan Agama : Inti dan
Bentuk Pengalaman Joachim Wach, disunting dan dihantar oleh Joseph M.
Kitagawa, Jakarta : Rajawali Press, 1989, hlm. 6.
J. Welhausen dan Robertson Smith, lihat
J. Waardenburg, classical approaches, II,
hlm.308-311 dan 265-266 berturut-turut, 1974
A.J. Wensinck , lihat J. Waardenburg, classical Approaches,II, hlm 311-312.
Lihat juga W.C.Van Unnik, “Prof.Dr. A.J. Wensincken de studie van de Oosterse
mystiek”, dalam Woorden gaan leven :
Opstleen van en over Willen Cornelis van unnik (1910-1978). Kampen:,J.H.
Kok, 1979, hlm. 238-263.
James
Kritzeck dan R. Baily Winder (ed), The
world of islam : Studies in Honour of Philip K. Hitti London : Macmillan,1959,
hlm 47-59
Jacques
Waardenburg, “Studi Islam dan Sejarah Agama-Agama” , dalam Azim Nanji (ed.), Peta Studi Islam : Orientalisme dan Arah
Baru Kajian di Barat, Yogyakarta : Fajar pustaka Baru, 2003, hlm. 278-281.
Robert
N. Bellah, “Islamic Tradition and the problem of modernization”, dalam
tulisanya, Beyond Belief : Essays on
religion in a Post-Traditional Word, New York : Harper & Row, 1970,
hlm. 146 -166. Lihat juga Robert N. Bellah (ed.), Religion and Progress in Modern Asia, Glencoe : Free Press, 1965.
Joesoef
Sou’yb, agama-agama Besar di Dunia, Jakarta : Al-Husna Zikra, 1996,hlm. 13-14.
Abud, Abdu Al-Ghny, Aqidah Islam –Vs
– ideologi modern, (Ponorogo: Tri Murti Press, 1992). Hlm. 31-34.
Hakim, Atang Abd. dan Jaih Mubaroh,
Metodologi Studi Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999). 51-53.
http://www.kosmaext2010.com/perbandingan-agama-islam-dan-kristen-makalah-teknik-penulisan-ilmiah.php
[1] Joachim Wach, ILmu Pengetahuan Agama : Inti dan Bentuk
Pengalaman Joachim Wach, disunting dan dihantar oleh Joseph M. Kitagawa,
Jakarta : Rajawali Press, 1989, hlm. 6.
[2] Ibid., hlm. 7.
[3] Ibid.
[4] J. Welhausen dan
Robertson Smith, lihat J. Waardenburg, classical
approaches, II, hlm.308-311 dan 265-266 berturut-turut, 1974
[5]A.J. Wensinck , lihat
J. Waardenburg, classical Approaches,II, hlm
311-312. Lihat juga W.C.Van Unnik, “Prof.Dr. A.J. Wensincken de studie van de
Oosterse mystiek”, dalam Woorden gaan
leven : Opstleen van en over Willen Cornelis van unnik (1910-1978).
Kampen:,J.H. Kok, 1979, hlm. 238-263.
[6]James Kritzeck dan R.
Baily Winder (ed), The world of islam :
Studies in Honour of Philip K. Hitti London : Macmillan,1959, hlm 47-59
[7] Jacques Waardenburg,
“Studi Islam dan Sejarah Agama-Agama” , dalam Azim Nanji (ed.), Peta Studi Islam : Orientalisme dan Arah
Baru Kajian di Barat, Yogyakarta : Fajar pustaka Baru, 2003, hlm. 278-281.
[8]Robert N. Bellah,
“Islamic Tradition and the problem of modernization”, dalam tulisanya, Beyond Belief : Essays on religion in a
Post-Traditional Word, New York : Harper & Row, 1970, hlm. 146 -166.
Lihat juga Robert N. Bellah (ed.), Religion
and Progress in Modern Asia, Glencoe : Free Press, 1965.
[9] Joesoef Sou’yb,
agama-agama Besar di Dunia, Jakarta : Al-Husna Zikra, 1996,hlm. 13-14.
[10] Ibid., hlm. 17.
[11] Ibid.
[12] Abud, Abdu Al-Ghny, Aqidah Islam –Vs – ideologi modern, (Ponorogo:
Tri Murti Press, 1992). Hlm. 31-34.
[13]
Hakim,
Atang Abd. dan Jaih Mubaroh, Metodologi Studi Islam, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 1999). 51-53.
izin copas min buat tugas..
BalasHapussukses selalu....